RESOLUSI JIHAD: PERANAN YANG TERKABURKAN SEJARAH
Dalam
sejarah Indonesia yang tercantum dalam buku-buku pelajaran sekolah,pertempuran
10 November hanya digambarkan secara face-to-face,secara garis besarnya. Dimana
saat itu perjuangan arek Surabaya yang dimotori Bung Tomo harus berhadapan
dengan tentara Inggris yang disokong pasukan terlatih dan terdidik. Terbunuhnya
Jendral Mallaby dalam pertempuran jembatan merah yang menjadi titik tolak
ultimatum pertempuran,hingga berakhir dengan pemuda pemuda yang berhasil
mempertahankan kota Surabaya selam 3 minggu,tidak digambarkan secara jelas peta
konsep kronologis pertempuran. Hal inilah yang menjadikan peristiwa peristiwa
penting,tersamarkan bahkan terkubur. Penelitian-penelitian ilmuwan barat yang
hanya mengangkat subyek subyek dunia atas turut andil dalam pengkaburan sejarah
tersebut.Jika kita cermati dengan kaca mata sejarah,peneliti dalam metodologi penulisan sejarah indonesia,subyek yang diangkat lebih memihak kaum bourjuis. Dimana yang berkuasa mengakomodir sejarah sebagai alat langgengnya suatu rezim. Akomodir sejarah inilah yang menyebabkan substansi dari sejarah itu sendiri seolah-olah terlupakan. Alih-alih sebagai kepentingan nasional,historiografi modern yang bersikap kritis dan lebih obyektif terjebak dan terpenjara kepentingan suatu birokrasi bertopeng yang menganggap dirinya hirarki legal formalistik. Para peneliti modern yang mengidentifikasi dirinya sebagai modernis dalam suatu penlisan obyek karya ilmiah telah mengalami stagnan dalam pengaplikasian sebuah penelitian hingga dapat dikatakan peneliti modern tersebut seyogyanyalah peneliti tradisional, padahal sebelumnya kaum modernis menganggap peneliti tradisional mengalami disintigrasi.
Memang
jika dilihat sepintas sebelah mata,hal ini tidak mengapa. Tetapi, pengaburan
sejarah akan berimbas pada pemuda masa kini. Dimana pemuda hanya membaca skene
dari cuplikan cuplikan sejarah yang berantakan. Dengan hanya menelaah cuplikan
sejarah maka pemuda akan sulit memahami dinamika kehidupan kaum bawah. Jika
kita tarik pada pertempuran 10 november, pondasi latar belakang dari perjuangan
rakyat tersebut tidak tercantumkan. Secara kronologis rakyat yang muncul dari
berbagai penjuru daerah,terkobarkan jiwa nasionalismenya dalam mempertahankan
kemerdekaan setelah meluncurnya “resolusi jihad”. Resolusi inilah yang
memobilisasi rakyat untuk bersatu mengusir penjajah yang berusaha memecah NKRI.
Resolusi
jihad ini muncul setelah Bung Karno mengirimkan duta kepada pemimpin Ulama
Nusantara saat itu dan pemegang ijazah sanad hadist Bukhori K.H Hasyim Asy’ari.
Pengiriman duta tersebut berkaitan dengan resahnya hati sang revolusioner
terhadap rakyat yang sedang berbunga-bunga setelah proklamasi kemerdekaan
dengan tiba-tiba harus berjuang kembali. Dengan kemampuan ijtihadnya kyai
Hasyim merespon permintaan tersebut dengan mengumpulkan ulama ulama Jawa
sebelum kemudian tersusunlah resolusi Jihad. Kharisma dan wibawa K.H Hasyim
Asy’ari saat itulah yang menjadi sebab rakyat memutuskan mengangkat senjata
dalam pertempuran Surabaya. Sebagaimana tradisi kaum santri salaf,yang
menjadikan seorang kyai layaknya seorang bapak yang harus dipatuhi semua titah
ucapannya,maka tanpa berpikir panjang para pemuda yang mayoritas santri
mempersiapkan diri berjuang dengan landasan jihad ilahi.
Kyai-kyai
tradisional Jawa yang terhimpun dalam organisasi Nahdlatul Ulama
mengkonsolidasi santrinya dengan berbagai senjata seadanya dan ilmu-ilmu kebal.
NU memiliki Hisbullah sebagai basis militer yang didalamnya terdiri atas
pasukan berani mati(Jibakutai) dan pasukan pelopor(Suishinta). Dengan pemimpin
pusatnya yaitu K.H Zainul Arifin,Hizbullah diikutsertakan dalam latihan yang
diprakarsai oleh Yanagawa seorang bekas tentara Jepang. Setelah selesai
latihan,Hizbullah disebar untuk turut andil melatih rakyat menggelorakan
perjuangan jihad,hingga mampu menggetarkan 10 November 1945.
Setelah
2 minggu pasukan Inggris mendarat,pertempuran Surabaya pecah. Dalam pertempuran
ini peranan Nahdliyin sangat vital,para santri yang telah berkumpul dalam satu
titik tidak sedikitpun mundur,sebagai brikade berani mati mereka terhimpun
tersusun rapi dalam barisan terdepan menggelorakan semangat rakyat. Bahkan Bung
Tomo yang didaulat sebagai pengobar semangat tidak sungkan dan enggan meminta
pendapat Kyai Hasyim. Bung Tomo yang notabane bukan seorang santri sebelum pertempuran
berkecamuk mengunjungi Kyai Hasyim dan meminta nasihat darinya. Lalu munculah rangkaian kata-kata diatas mimbar “Allahu
Akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar”. Untaian kalimat takbir hasil curahan hatinya
pada Kyai Hasyim berhasil menggerakan massa sekaligus menyayat hati tentara
Inggris. Allahu Akbar menjadi suara magis ideologi jihad pengagungan tuhan,para
pejuang berani mati dalam membela agama dan negara. Dampaknya terlihat dengan
kegigihan santri dan rakyat menyerbu tank musuh hingga hancur walaupun dirinya
hancur pula.
Tidak lepas dari Resolusi Jihad,disepakati bahwa pemimpin Nahdliyin dan Hizbullah dalam pertempuran Surabaya adalah seorang kyai sekaligus pendekar dari Cirebon yaitu K.H Abbas Buntet. Dengan kemampuannya dalam olah diri,serta meracik strategi orang sekaliber kyai Abbas memang pantas memanggul tanggung jawab tersebut. Sebelum melancarkan serangan sempat Bung Tomo meminta nasihat pada Kyai Hasyim tentang waktu yang tepat dalam memulai serangan. Dengan tenang dan dingin serta kemampuannya sebagai seorang waliyullah yang weruh sak durunge winarah Kyai Hasyim melarang Bung Tomo dalam memulai serangan sebelum kedatangan Kyai Abbas dari Cirebon. Dari hal ini dapat ditangkap bahwa sebenarnya pemimpin pertempuran Surabaya adalah kyai Abbas sedangkan Bung Tomo hanyalah penggempur semangat rakyat dan pengatur kronologis pertempuran. Tetapi dengan semangat keduanya ultimatum dan blokade tentara inggris yang bertekhnologi canggih berhasil ditangkis bahkan
Dengan
komposisi tersebut pertempuran yang berlarut hingga 3 hari 3 malam berhasil
meluhkan hati tentara inggris hingga akhirnya skenario kudeta yang telah
direncanakan secara matang menemui kegagalan. Disini peran Resolusi Jihad yang
didalamnya berisi para Kyai,para pendekar dan para santri sangat vital.
Terutama bagi Kyai Hasyim sebagai pimpinan para kyai dan para pejuang
Nasionalis,Beliau memainkan peran sebagai dalang yang memainkan wayang dari
balik layar. Dan perlu digaris bawahi bahwa walaupun tidak tercantum dalam
sejarah Nasional tetapi mereka yang terekam dalam perjuangan Surabaya dan
terangkum dalam resolusi jihad berjuang tanpa pamrih,legawa dan ikhlash.
Sejarah
yang terkaburkan seperti ini memang wajib diperjuangkan oleh masyarakat yang
memang perannya terabaikan karena sengaja ataupun sebagai kecelakaan sejarah.
Membiarkan terabaikannya suatu sejarah dan hal itu tidak sesuai dengan fakta
adalah wajib untuk diluruskan sebagai ijtihad. Bukan hanya ajang mengingatkan
akan pentingnya peristiwa penting sebagai alat menggugurkan kewajiban,tetapi
juga sebagai jalan mitigasi sejarah. Mengkambing hitamkan seseorang sebagai
intimadasi dalam sebuah kritik bukanlah sesuatu yang bijak dan elegan. Oleh
karena itu mengumpulkan data-data dan menyaringnya dalam sebuah tulisan lebih
perwira dan dapat menjadi sebuah media pembelajaran.